PERILAKU MENYIMPANG PADA ANAK
Santriat Darut Tauhid Madina
A.
Definisi
Perilaku Menyimpang
Perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak sesuai dengan
norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku menyimpang
dapat terjadi pada manusia muda, dewasa, atau tua baik laki-laki maupun
perempuan. Perilaku menyimpang ini tidak mengenal pangkat atau jabatan dan
tidak juga tidak mengenal waktu dan tempat. Penyimpangan bisa terjadi dalam
skala kecil maupun skala besar.
Menurut Bruce J Cohen (dalam buku terjemahan Sahat Simamora),
Perilaku menyimpang didefinisikan sebagai perilaku yang tidak berhasil
menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam
masyarakat. Batasan perilaku menyimpang ditentukan oleh norma-norma atau
nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Suatu tindakan yang mungkin pantas
dan dapat diterima di satu tempat mungkin tidak pantas dilakukan di tempat yang
lain
Menurut Robert M.Z Lawang, perilaku menyimpang adalah suatu
tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu system
social.
Jadi dapat disimpulkan bahwa perilaku menyimpang adalah perilaku
manusia yang bertentangan atau tidak sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma
yang berlaku dalam masyarakat.
Masa remaja merupakan masa transmisi dari masa kanak-kanak menuju
masa dewasa. Remaja dalam gambaran yang umum merupakan suatu periode yang
dimulai dengan perkembangan masa pubertas dan menyelesaikan pendidikan untuk
tingkat menengah, dimana perubahan biologis yang membawanya pada usia belasan
(teenagers) seringkali mempengaruhi perilaku masa remaja. Para remaja tersebut
sangat peka terhadap gagasan bahwa mereka harus seperti orang dewasa atau
kanak-kanak, sehingga mereka segera mengganti mode pakaiannya.
Perilaku menyimpang pada remaja terjadi pada masyarakat dikalangan
atas maupun dikalangan bawah contohnya saja di kota-kota besar. Dikota
Banjarnegara Banyak kasuspergaulan bebas di kalangan remaja
telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama seks bebas. Mereka
begitu mudah memasuki tempat-tempat khusus orang dewasa, apalagi malam minggu.
Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah merambat di kalangan SMP.
‘’Banyak kasus remaja putri yang hamil karena kecelakan
Dalam kehidupan para remaja sering kali diselingi hal hal yang
negative dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan sekitar baik lingkungan
dengan teman temannya di sekolah maupun lingkungan pada saat dia di rumah. Hal
hal tersebut dapat berbentuk positif hingga negative yang serng kita sebut
dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja itu sendiri merupakan perbuatan
pelanggaran norma-norma baik norma hukum maupun norma sosial. Sedangkan
Pengertian kenakalan remaja Menurut Paul Moedikdo,SH adalah :
·
Semua perbuatan yang
dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan
jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan
sebagainya.
·
Semua perbuatan penyelewengan dari norma
kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
·
Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan
perlindungan bagi sosial.
Adapun gejala-gejala
yang dapat memperlihatkan hal-hal yang mengarah
kepada kenakalan remaja :
kepada kenakalan remaja :
·
Anak-anak yang tidak
disukai oleh teman-temannya sehingga anak tersebut menyendiri. Anak yang
demikian akan dapat menyebabkan kegoncangan emosi.
·
Anak-anak yang sering menghindarkan diri dari
tanggung jawab di rumah atau di sekolah. Menghindarkan diri dari tanggung jawab
biasanya karena anak tidak menyukai pekerjaan yang ditugaskan pada mereka
sehingga mereka menjauhkan diri dari padanya dan mencari kesibukan-kesibukan
lain yang tidak terbimbing.
·
Anak-anak yang sering mengeluh dalam arti
bahwa mereka mengalami masalah yang oleh dia sendiri tidak sanggup mencari
permasalahannya. Anak seperti ini sering terbawa kepada kegoncangan emosi.
·
Anak-anak yang mengalami phobia dan gelisah
dalam melewati batas yang berbeda dengan ketakutan anal-anak normal.
·
Anak-anak yang suka
berbohong.
·
Anak-anak yang suka menyakiti atau mengganggu
teman-temannya di sekolah atau di rumah.
·
Anak-anak yang menyangka bahwa semua guru
mereka bersikap tidak baik terhadap mereka dan sengaja menghambat mereka.
·
Anak-anak yang tidak
sanggup memusatkan perhatian.
Alumni Darut Tauhid Madina
B.
Ciri
ciri perilaku menyimpan
Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and
Reformationsebab-sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai
berikut :
·
Faktor subjektif adalah faktor yang
berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir).
·
Faktor
objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan
rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tidak serasi.
Untuk lebih jelasnya, berikut
diuraikan beberapa penyebab terjadinya penyimpangan seorang individu (faktor
objektif), yaitu
1.
Ketidaksanggupan menyerap
norma-norma kebudayaan. Seseorang yang tidak sanggup menyerap norma-norma
kebudayaan ke dalam kepribadiannya, ia tidak dapat membedakan hal yang pantas
dan tidak pantas. Keadaan itu terjadi akibat dari proses sosialisasi yang tidak
sempurna, misalnya karena seseorang tumbuh dalam keluarga yang retak(broken
home). Apabila kedua orang tuanya tidak bisa mendidik anaknya dengan sempurna
maka anak itu tidak akan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anggota
keluarga.
2.
Proses belajar yang menyimpang.
Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau
melihat tayangan tentangperilaku menyimpang. Hal itu merupakan bentuk perilaku
menyimpang yang disebabkan karena proses belajar yang menyimpang. karier
penjahat kelas kakap yang diawali dari kejahatan kecil-kecilan yang terus
meningkat dan makin berani/nekad merupakan bentuk proses belajar menyimpang.
3.
Ketegangan antara kebudayaan dan
struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial
dapat mengakibatkanperilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai
suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan
peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang.
4.
Ikatan sosial yang berlainan. Setiap
orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan itu mempunyai
pola-pola perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia juga akan mencontoh
pola-pola perilaku menyimpang.
5.
Akibat proses sosialisasi
nilai-nilai sub-kebudayaan yang menyimpang. Seringnya media massa menampilkan
berita atau tayangan tentang tindak kejahatan (perilaku menyimpang)Hal inilah
yang dikatakan sebagai prosesbelajar dari sub-kebudayaan yang menyimpang,
Para Santri Darut Tauhid Di Bandara
C.
Jenis Jenis Perilaku Menyimpang
Berdasarkan kekerapan atau berat-ringannya penyimpangan
1)
Penyimpangan Primer (Primary Deviation)
Ciri-cirinya :
a.
Bersifat sementara / temporer
b.
Gaya hidupnya tidak didominasi oleh perilaku menyimpang
c.
Masyarakat masih mentolerir / menerima
Contoh: pegawai negeri
yang membolos kerja, banyak minum alkohol pada waktu pesta, siswa yang membolos
atau menyontek saat ujian dan pelanggaran lalu lintas.
2)
Penyimpangan Sekunder (Secondary Deviation)
Ciri-cirinya :
a.
Bersifat permanen / tetap
b.
Gaya hidupnya didominasi oleh perilaku menyimpang
c.
Masyarakat tidak bisa mentolerir perilaku menyimpang
tersebut.
Contoh: pembunuhan,
perjudian, perampokan dan pemerkosaan.
Berdasarkan jumlah pelakunya
1)
Penyimpangan Individu
Penyimpangan individu adalah penyimpangan yang dilakukan
oleh seseorang individu dengan melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari
norma-norma yang berlaku. Contohnya pencurian yang dilakukan sendiri.
2)
Penyimpangan Kelompok
Penyimpangan kelompok adalah penyimpangan yang dilakukan
secara berkelompok dengan melakukan tindakan-tindakan menyimpang dari
norma-norma masyarakat yang berlaku. Pada umumnya penyimpangan kelompok terjadi
dalam sub kebudayaan yang menyimpang yang ada dalam masyarakat. Contohnya gank kejahatan
atau mafia.
3)
Penyimpangan Institusi
Penyimpangan institusi dilakukan oleh organisasi yang
melibatkan organisasi lainnya yang dilakukan rapih. Sebagai contohnya tidakan
korupsi yang dilakukan oleh para pejabat negara.
D.
Sifat
sifat Perilaku Menyimpang
Secara umum, terdapat dua sifat penyimpangan, yaitu:
·
Penyimpangan yang bersifat positif
Penyimpangan yang bersifat positif
adalah penyimpangan yang memiliki dampak positif terhadap sistem sosial karena
mengandung unsur inovatif, kreatif dan memperkaya alternatif. Umumnya,
penyimpang ini dapat diterima masyarakat karena sesuai dengan perubahan zaman.
Contoh, emansipasi wanita dalam kehidupan masyarakat yang memunculkan banyak
wanita karier
·
Penyimpangan yang bersifat negatif
Dalam penyimpangan yang bersifat
negatif, pelaku bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dipandang rendah dan
berakibat buruk serta mengganggu sistem sosial. Tindakan dan pelakunya akan
dicela dan tidak diterima masyarakat. Bobot penyimpangan dapat diukur menurut
kaidah sosial yang dilanggar. Contoh, seorang koruptor selain harus
mengembalikan kekayaan yang dimilikinya kepada negara, juga tetap dikenakan
hukuman penjara.
E.
Masalah
yang dihadapi remaja
Perjalanan kehidupan
dan proses perkembangan sering sekali ternyata tidak mulus, banyak memgalami
berbagai hambatan dan rintangn. Lebih-lebih bagi siswa sekolah menengah yang
berada dalam fase perkembangan remaja, masa dimana individu mengalami berbagai
perubahan fisik maupun psikis. Pada fase ini individu mengalami perubahan ynag
besar yang dimulai dengan datangnya masa puber. Datangnya masa puber ditandai
dengan kematangan seksualitas. Sikap-sikap dan perilaku yang terjadi pada masa
puber sering mengganggu tugas-tugas pada masa perkembangan anak pada masa
berikutnya yaitu masa remaja, dan sebagai akibatnya anak akan mengalami
gangguan dalam menjalani kehidupan pada fase remaja. Beberapa masalah yang
dialami para remaja sekarang:
1. Masalah Emosi
Secara tradisional masa remaja dianggap periode “badai dan tekanan” suatu masa
dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akiabat dari perubahan fisik dan
kelenjar. Emosi remaja seringkali sangat kuat, tidak terkendali, dan kadang
tampak pada mereka, mudfah marah, mudah dirangsang, emosinya cenderung
meledak-ledak dan tidak mampu mengendalikan perasaannya. Keadaan ini sering
menimbulkan berbagai permasalahn khususnya dalam kaitannya dengan penyesuainan
diri dilingkunganya. Maraknya kasus perkelahian antar pelajar akhir-akir ini
adalah contoh nyata dari ketidakmampuan remaja mengolah dan mengendalikan
emosi.
2. Masalah Penyesuaian
Diri
Salah satu tugas yang paling sulit pada masa remaja adalah yang berhubungan
dengan penyesuian social. Remaja harus meyesuaikan diri dengan lawan jenis,
baik sesama remaja maupun dengan orang-oarang dewasadiluar lingkungan keluarga
dan sekolah. Untuk mencspai pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat
banyak banyak enyesuaian baru. Pada fase ini remaja lebih banyak diluar rumah
bersama-sama temannya sebagai kelompok, maka dapatlah dimengerti kalau pengaruh
teman-temannya sebaya dalam pola perilaku,sikap, minat dan gaya hidupnya lebih
besar daripada pengaruh dari keluarga. Perilaku remaja sangat bergantung dari
pola-pola perilaku kelompok. Yang menjadi masalah apabila mereka salah bergaul,
misalnya berada dalam kelompok pemakai obat-obatan terlarang, minuman keras,
merokok, dan perilaku negative lainnaya. Dalam keadasan demikian
remajacenderung akna mengikutinya tanpa memperdulikan akibat yangakan menimpa
dirinya. Kebutuhan akan penerimaan dirinya dalam kelompok sebaya merupakan
kebutuhan yang dianggap paling penting. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut,
remaja mau melaksanakan apa saja yang akan menimpa atas perilaku mereka
tersebut.
3. Masalah Perilaku
Seksual
Tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh remaja sehubunagn dengan
kematangan seksualitasnya adalah pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan
jenis dan belajar memerankan seks yang diakuinya. Pada masa remaja sudah mulai
tertarik pada lawan jenis, mulai bersifat romants yang didikuti oleh keinginnan
yang kuat untuk memperoleh dukungan dan perhtian dari lawan jenis, sebagai
akibatnya remaja mempunyai minat tinggi pada seks. Remaja lebih banyak mencari
informasi tentang seks dari sumber-sumber yang kadang tidak dapat
dipertanggungjawabkan, misalnya dari tena sebaya yang sama-sam kurang memahami
arti pentingnya seks, internet, media elektronik yan semakin canggih, dan media
cetak yang kadang-kadang lebih mengarah pada pornografi. Sebagai akibat dari
informasi yang salah dapat menimbulkan perilaku seks remkja yang apabila
ditinjau dari segi moral dan kesehatan tidsak layak untuk dilakukan misalnya
berciuman, bercumbu, mesturbasi, dan bersenggama. Namun generasi sekarang
hal-hgal tersebut dianggap normal atau paling tidak diperbolehkan. (Hurlock,
1980:229)
pergaulan
bebas di kalangan remaja telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah,
terutama seks bebas. Mereka begitu mudah memasuki tempat-tempat khusus orang
dewasa, apalagi malam minggu. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah
merambat di kalangan SMP. ‘’Banyak kasus remaja putri yang hamil karena
kecelakan.
Menurut Dr Rose Mini AP, M Psi seorang psikolog pendidikan, seks
bagi anak wajib diberikan orangtua sedini mungkin. “Pendidikan seks wajib
diberikan orangtua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai saat anak
masuk play group (usia 3-4 tahun), karena pada usia ini anak sudah dapat
mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat pula dilanjutkan dengan
pengenalan organ tubuh internal.
Tidak ada cara instan untuk mengajarkan seks pada anak kecuali
melakukannya setahap demi setahap sejak dini. Kita dapat mengajarkan anak mulai
dari hal yang sederhana, dan menjadikannya sebagai satu kebiasaan sehari-hari.
Tanamkan pengertian pada anak layaknya kita menanamkan pengertian tentang
agama. Kita tahu tidak mungkin mengajarkan agama hanya dalam tempo satu hari
saja dan lantas berharap anak akan mampu menjalankan ibadahannya, maka demikian
juga untuk seks.
Pengenalan seks pada anak dapat dimulai dari pengenalan mengenai
anatomi tubuh. Kemudian meningkat pada pendidikan mengenai cara berkembangbiak
makhluk hidup, yakni pada manusia dan binatang. Nah, kalau sudah tahu, orangtua
dapat memberi tahu apa saja dampak-dampak yang akan diterima bila anak begini
atau begitu,”
Salah satu cara menyampaikan pendidikan seksual pada anak dapat
dimulai dengan mengajari mereka membersihkan alat kelaminnya sendiri. Dengan
cara “Mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah
buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB), agar anak dapat mandiri dan
tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung
dapat mengajarkan anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain
membersihkan alat kelaminnya.
Pengenalan seks pada anak dapat dimulai dari pengenalan mengenai
anatomi tubuh. Kemudian meningkat pada pendidikan mengenai cara berkembangbiak
makhluk hidup, misalnya pada manusia. Sehingga orangtua dapat memberikan
penjelasan mengenai dampak-dampak yang akan diterima bila anak sudah melakukan
hal-hal yang menyimpangnya. oleh
sebab itu perlunya pendidikan seks sejak dini, bila perlu diberikan
disekolah-sekolah agra para siswa dapat mengetahui pendidikan seks yang benar
dan tidak terjerumus kehal-hal yang negative.
4. Masalah Perilaku Sosial
Tanda-tanda masalah perilaku social pada remaja dapat dilihat dari adanya
diskriminasi terhadap mereka yang terlatar belakang ras, agama, atau social
ekonomi yang berbeda. Dengan pola-pola perilaku social seperti ini, maka
melahirkan geng-geng atau kelompok-kelompok remaja yang pembentukanya
berdasarkan atas kesamaan latar belakang, agama, suku dan social ekonomi. Pembentukan
kelompok atau geng pada renaja tersebut dapat memicu terjadinya permusuhan
antar kelompok atau geng. Untuk mencegah dan mengatasi masalah diatas dapat
dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatana kelompok dengan tidak
memperhatikan latar belakang suku, agama,ras, dan social ekonomi.
5. Masalah Moral
Masalah moral yang terjadi pada para remja ditandai oleh adanya ketidakmampuan
remaja membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini dapat disebabkan
oleh ketidakkonsisitenan dalam konse benar dan slah yang ditemukan dalam
kehidupan sehari-hari. Misalnya antar sekolah, keluarga, da kelompok remaja.
Ketidakmampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah dapat membawa
mala petaka bagi kehidupan remja pada khususnya dan pada semua oaring pada
umumnya.
6. Masalah Keluarga
Remaja
sering menganggap standar perilaku orang tua yang kuno dan yang modern berbeda.
Menurut remaja, orang tua yang mempunyai standar kuno harus mengikuti standar
modern, sedagkan orang tua tetap pada pendiriannya semula. Keadaan inilah yang
sering menjadi sumber perselisihan antar mereka. Sehingga remaja yang cenderung
keaah modernisasi akan membantah semua yang ditetapkan oleh orang tuanya
sehingga menimbulakan penyimpangan untuk melakukan apa yang sudah
diinginkannya.
Kunjungan Syekh Majid Salim (keturunan 'UTSMAN BIN 'AFFAN) dan Syekh Jumhuri Al-Banjari serta rombongan Ke PONPES DARUT TAUHID MADINA
F.
Bentuk
bentuk perilaku menyimpang
Segala
tindakan atau perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang
berlaku dalam masyarakat dianggap sebagai bentuk penyimpangan. Bentuk-bentuk
penyimpangan tersebut apabila terus berkembang akan menyebabkan timbulnya
penyakit sosial dalam masyarakat. Adapun bentuk-bentuk penyimpangan serta
berbagai penyakit sosial yang ada dalam masyarakat bermacam-macam. Berikut ini
berbagai penyakit sosial yang ada dalam masyarakat.
Minuman
keras adalah minuman dengan kandungan alkohol lebih dari 5%. Akan tetapi,
berdasarkan ketetapan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), setiap minuman yang
mengandung alkohol, berapa pun kadarnya, dapat dikategorikan sebagai minuman
keras dan itu diharamkan (dilarang) penyalahgunaannya. Adapun yang dimaksud
penyalahgunaan di sini adalah suatu bentuk pemakaian yang tidak sesuai dengan
ambang batas kesehatan. Artinya, pada dasarnya boleh digunakan sejauh hanya
untuk maksud pengobatan atau kesehatan di bawah pengawasan dokter atau ahlinya.
Di beberapa daerah di Indonesia, terdapat jamu atau minuman tradisional yang
dapat digolongkan sebagai minuman keras. Sebenarnya, jika digunakan tidak
secara berlebihan jamu atau minuman tradisional yang dapat digolongkan sebagai
minuman keras tersebut dapat bermanfaat bagi tubuh. Namun, sangat disayangkan
jika jamu atau minuman tradisional yang dapat digolongkan sebagai minuman keras
tersebut dikonsumsi secara berlebihan atau sengaja digunakan untuk
mabuk-mabukan. Para pemabuk minuman keras dapat dianggap sebagai penyakit
masyarakat. Pada banyak kasus kejahatan, para pelaku umumnya berada dalam
kondisi mabuk minuman keras. Hal ini dikarenakan saat seseorang mabuk, ia akan
kehilangan rasa malunya, tindakannya tidak terkontrol, dan sering kali
melakukan hal-hal yang melanggar aturan masyarakat atau aturan hukum. Minuman
keras juga berbahaya saat seseorang sedang mengemudi, karena dapat merusak
konsentrasi pengemudi sehingga dapat menimbulkan kecelakaan. Pada pemakaian jangka
panjang, tidak jarang para pemabuk minuman keras tersebut dapat meninggal dunia
karena organ lambung atau hatinya rusak terpengaruh efek samping alkohol yang
kerap dikonsumsinya.
2.
Penyalahgunaan Narkotika
Pada
awalnya, narkotika digunakan untuk keperluan medis, terutama sebagai bahan
campuran obat-obatan dan berbagai penggunaan medis lainnya. Narkotika banyak
digunakan dalam keperluan operasi medis, karena narkotika memberikan efek
nyaman dan dapat menghilangkan rasa sakit sementara waktu, sehingga pasien
dapat dioperasi tanpa merasa sakit. Pada pemakaiannya di bidang medis,
dibutuhkan seorang dokter ahli untuk mengetahui kadar yang tepat bagi manusia,
karena obat-obatan yang termasuk narkotika mempunyai efek ketergantungan bagi
para pemakainya. Penyalahgunaan narkotika dilakukan secara sembarangan tanpa
memerhatikan dosis penggunaannya. Pemakaiannya pun dilakukan dengan berbagai
cara, misalnya dihirup asapnya, dihirup serbuknya, disuntikkan, ataupun ditelan
dalam bentuk pil atau kapsul. Pengguna yang kecanduan, merusak sistem saraf
manusia, bahkan dapat menyebabkan kematian. Berikut adalah contoh zat-zat yang
termasuk dalam kategori narkotika.
3.
Perkelahian Antarpelajar
Perkelahian
antarpelajar sering terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan
kota-kota besar lainnya. Perkelahian tersebut tidak hanya menggunakan tangan
kosong atau perkelahian satu lawan satu, melainkan perkelahian bersenjata,
bahkan ada yang menggunakan senjata tajam serta dilakukan secara berkelompok.
Banyak korban berjatuhan, bahkan ada yang meninggal dunia. Lebih disayangkan
lagi, kebanyakan korban perkelahian tersebut adalah mereka yang justru tidak
terlibat perkelahian secara langsung. Mereka umumnya hanya sekadar lewat atau
hanya karena salah sasaran pengeroyokan. Kondisi ini jelas sangat mengganggu
dan membawa dampak psikis dan traumatis bagi masyarakat, khususnya kalangan
pelajar. Pada umumnya mereka menjadi was-was, sehingga kreativitas mereka
menjadi terhambat. Hal ini tentu saja membutuhkan perhatian dari semua kalangan
sehingga dapat tercipta suasana yang nyaman dan kondusif khususnya bagi
masyarakat usia sekolah.
Perilaku
seks di luar nikah selain ditentang oleh norma-norma sosial, juga secara tegas
dilarang oleh agama. Perilaku menyimpang ini dapat dilakukan oleh seorang
laki-laki dan perempuan yang belum atau bahkan tidak memiliki ikatan resmi.
Dampak negatif dari perilaku seks di luar nikah, antara lain, lahirnya anak di
luar nikah, terjangkit PMS (penyakit menular seksual), bahkan HIV/AIDS, dan
turunnya moral para pelaku.
5.
Berjudi
Berjudi
merupakan salah satu bentuk penyimpangan sosial. Hal ini dikarenakan berjudi
mempertaruhkan harta atau nafkah yang seharusnya dapat dimanfaatkan. Seseorang
yang gemar berjudi akan menjadi malas dan hanya berangan-angan mendapatkan
banyak uang dengan cara-cara yang sebenarnya belum pasti. Indonesia merupakan
salah satu negara yang melarang adanya perjudian, sehingga seluruh kegiatan
perjudian di Indonesia adalah kegiatan illegal yang dapat dikenai sanksi hukum.
Akan tetapi, dalam beberapa kasus, aparat keamanan masih menolerir kegiatan
perjudian yang berkedok budaya, misalnya perjudian yang dilakukan masyarakat
saat salah seorang warganya mempunyai hajatan. Langkah ini sebenarnya kurang
tepat, mengingat bagaimana pun juga hal ini tetap merupakan bentuk perjudian
yang dilarang agama.
6.
Kejahatan (Kriminalitas)
Kejahatan
adalah tingkah laku yang melanggar hukum dan melanggar norma-norma sosial,
sehingga masyarakat menentangnya. Sementara itu secara yuridis formal,
kejahatan adalah bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral kemanusiaan
(immoril), merugikan masyarakat, sifatnya asosiatif dan melanggar hukum serta
undang-undang pidana. Tindak kejahatan bisa dilakukan oleh siapa pun baik
wanita maupun pria, dapat berlangsung pada usia anak, dewasa, maupun usia
lanjut. Tindak kejahatan pada umumnya terjadi pada masyarakat yang mengalami
perubahan kebudayaan yang cepat yang tidak dapat diikuti oleh semua anggota
masyarakat, sehingga tidak terjadi penyesuaian yang sempurna. Selain itu tindak
kejahatan yang disebabkan karena adanya tekanan mental atau adanya kepincangan
sosial. Oleh karena itu tindak kejahatan (kriminalitas) sering terjadi pada
masyarakat yang dinamis seperti di perkotaan. Tindak kejahatan (kriminalitas)
misalnya adalah pembunuhan, penjambretan, perampokan, korupsi, dan lain-lain.
G.
Dampak
Perilaku Menyimpang
Berbagai bentuk perilaku menyimpang yang ada di masyarakat
akan membawa dampak bagi pelaku maupun bagi kehidupan masyarakat pada umumnya.
Berbagai bentuk perilaku menyimpang
yang dilakukan oleh seorang individu akan memberikan dampak bagi si pelaku.
Berikut ini beberapa dampak tersebut.
a.
Memberikan pengaruh psikologis atau
penderitaan kejiwaan serta tekanan mental terhadap pelaku karena akan
dikucilkan dari kehidupan masyarakat atau dijauhi dari pergaulan.
b.
Dapat menghancurkan masa depan
pelaku penyimpangan.
c.
Dapat menjauhkan pelaku dari Tuhan
dan dekat dengan perbuatan dosa.
d.
Perbuatan yang dilakukan dapat
mencelakakan dirinya sendiri.
Perilaku penyimpangan juga membawa
dampak bagi orang lain atau kehidupan masyarakat pada umumnya. Beberapa di
antaranya adalah meliputi hal-hal berikut ini.
a.
Dapat mengganggu keamanan,
ketertiban dan ketidakharmonisan dalam masyarakat.
b.
Merusak tatanan nilai, norma, dan
berbagai pranata sosial yang berlaku di masyarakat.
c.
Menimbulkan beban sosial,
psikologis, dan ekonomi bagi keluarga pelaku.
d.
Merusak unsur-unsur budaya dan
unsur-unsur lain yang mengatur perilaku individu dalam kehidupan masyarakat.
Dampak
yang ditimbulkan sebagai akibat perilaku penyimpangan sosial, baik terhadap
pelaku maupun terhadap orang lain pada umumnya adalah bersifat negatif.
Demikian pula, menurut pandangan umum, perilaku menyimpang dianggap merugikan
masyarakat. Namun demikian, menurut Emile Durkheim, perilaku menyimpang tidak
serta merta selalu membawa dampak yang negatif. Menurutnya, perilaku menyimpang
juga memiliki kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat. Adapun beberapa
kontribusi penting dari perilaku menyimpang yang bersifat positif bagi
masyarakat meliputi hal-hal berikut ini.
H.
Tips
Untuk Mengatasi dan Mencegah Perilaku Menyimpang Remaja
Beberapa tips untuk
mengatasi dan mencegah kenakalan remaja, yaitu:
·
Perlunya kasih sayang
dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun.
·
Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak
mengekang. contohnya: kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang
masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan kita dia telah melewati batas
yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia dampak dan akibat
yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas
tersebut.
·
Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang
sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena
apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya
dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun bisa terbawa
gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani.
·
Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap
media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone, dll.
·
Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah,
karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di
rumah.
·
Perlunya pembelajaran agama yang dilakukan
sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman
kepercayaannya.
·
Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan
selama itu masih positif untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun
kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat Positif.
Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya.
·
sebagai orang tua harus menjadi tempat CURHAT
yang nyaman untuk anak anda, sehingga anda dapat membimbing dia ketika ia
sedang menghadapi masalah.
SANTRI DARUT TAUHID MADINA
KESILPULAN DAN SARAN SARAN
A.
KESIMPULAN
Adapun
kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
Perilaku menyimpang adalah
perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam
masyarakat. Perilaku menyimpang dapat terjadi pada manusia muda, dewasa, atau
tua baik laki-laki maupun perempuan. Perilaku menyimpang ini tidak mengenal
pangkat atau jabatan dan tidak juga tidak mengenal waktu dan tempat.
Penyimpangan bisa terjadi dalam skala kecil maupun skala besar.
Ciri-Ciri Perilaku Menyimpang
·
Penyimpangan harus dapat
didefinisikan.
·
Penyimpangan bisa diterima bisa juga
ditolak
·
Penyimpangan
relatif dan penyimpangan mutlak
·
Penyimpangan terhadap budaya nyata
ataukah budaya ideal
·
Terdapat norma-norma penghindaran
dalam penyimpangan.
·
Penyimpangan sosial
bersifat adaptif (menyesuaikan)
Sebab-Sebab Perilaku Menyimpang
Faktor subjektif adalah
faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa
sejak lahir).
Faktor objektif adalah faktor yang berasal
dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara
orang tua dan anak yang tidak serasi.
Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang
·
Penyimpangan Primer (Primary Deviation)
·
Penyimpangan Sekunder (Secondary Deviation)
Sifat-Sifat Perilaku Menyimpang
·
Penyimpangan yang bersifat positif
·
Penyimpangan yang bersifat negatif
Bentuk-Bentuk Perilaku Menyimpang
Segala
tindakan atau perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang
berlaku dalam masyarakat dianggap sebagai bentuk penyimpangan. Bentuk-bentuk
penyimpangan tersebut apabila terus berkembang akan menyebabkan timbulnya
penyakit sosial dalam masyarakat. Adapun bentuk-bentuk penyimpangan serta
berbagai penyakit sosial yang ada dalam masyarakat bermacam-macam. Berikut ini
berbagai penyakit sosial yang ada dalam masyarakat.
Dampak Penyimpangan Sosial
·
Dampak Bagi Pelaku
·
Dampak Bagi Orang Lain/Kehidupan
Masyarakat




